Ada Apa Dengan Gerhana
قَالَ اللهً تَبَارَكَ وَتَعَالَى
وَمِنْ ءَايَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَ تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ﴿فصلت:41
Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (surah Fusshilat (41):37)
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿لقمان:29﴾
“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah Luqman (31):29)
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ ، يُخَوِّفُ اللهُ بِهِمَا عِبَادَهُ ، وَإِنَّهُمَا لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا ، وَادْعُوا اللهَ حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ. ﴿( خ ن ) عن أبي بكرة ( ق ن هـ ) عن أبي مسعود ( ق ن ) عن ابن عمر ( ق ) عن المغيرة﴾
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Melalui keduanya, Allah hendak memberikan rasa takut kepada hamba-hamba-Nya. Gerhana bulan atau matahari terjadi bukan lantaran adanya orang yang mati. Maka jika kalian melihat gerhana, maka sholatlah dan berdoalah kepada Allah s.w.t hingga gerhananya habis.”
LATARBELAKANG
Bahwa matahari dan bulan adalah âyataini ‘adzîmataini, dua tanda kekuasaan Allah yang besar (innahâ la’ihdal-kubar). Keduanya adalah sirratu’s-samâ’i; pusaran langit, sirâjan wahhâjan, yang menjadi kekuatan sekaligus tanda kekuasaan Allah Rabbul ‘Âlamîn di alam raya ini. Terhadap keduanya, manusia diminta supaya pandai mengambil ibrah dan hikmah, وَمَا نُرْسِلُ بِاْلآيَاتِ إِلاّ تَخْوِيفًا. “Dan Kami (AllahuTa’ala) tidak akan mengirim tanda-tanda itu melainkan untuk memberi rasa takut (Al Isra’: 59).
Bahwa peristiwa gerhana matahari/bulan terjadi atas kudrat dan iradat Allah s.w.t sebagai Rabb Pemelihara tempat terbit dan terbenamnya bulan dan matahari, rabbul masyriqaini wa rabbul maghribain. Jadi, gerhana bukan fenomena alam biasa sebagaimana tinjauan aspek ilmiah, atau fenomena mistik berkenaan dengan lahir atau matinya seseorang seperti keyakinan jahiliyah atau pemandangan alam yang menarik untuk dinikmati sebagai hiburan langka. Gerhana bukan pula sebagai wujud kemurkaan orang langit terhadap penduduk bumi, seperti pandangan lokal kaum musyrikin yang menyikapi gerhana dengan ritual sesajen yang penuh dengan aroma animisme dan dinamisme.
Semua anggapan lokal ini, Rasulullah s.a.wluruskan saat terjadi gerhana saat itu, bertepatan dengan wafatnya putera beliau, Ibrahim dari ummul mu’minin Maria Al Qibthiya radhiyallahu’anha pada hari Senin 29 Syawal 10 H/27 Januari 632 M jam 8.30 pagi waktu KSA, dalam usia 18 bulan.
Gerhana adalah peringatan dari Rabbul’alamin (nadziran lil-basyar) untuk menimbulkan rasa takut dan harap (khaufan wa thama’an). Rasa takut bagi para pelaku maksiat, dan harap terhadap rahmat Allah bagi mereka yang mau bertaubat yang menandai dekatnya hari Qiamat (Al-Qiyamah (75):8). Karena itu sholat gerhana disyariatkan agar manusia bertambah taat dan takut (takhwiful-‘ibad), timbul rasa kuatir untuk bertaubat, mengingat mati dan kehidupan yaumul-akhir. Dan inilah maksud sabda Nabi s.a.w” jika kalian melihat gerhana bersegeralah mendirikan sholat, berdoa dan beristighfar, bersedekah dan bertakbirlah.”
Bahwa pelaksanaan sholat gerhana memerlukan petunjuk khusus yang lebih rinci, praktis dan mudah dipahami oleh masyarakat luas dalam bentuk panduan.
ADA APA DENGAN GERHANA:
Saat itu, orang yang berada dalam kuburan, sedang mengalami siksa kubur atau terkena fitnah kubur.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: وَقَالَ فِي آخِرِهِ : ثُمَّ انْصَرَفَ ، فَقَالَ مَا شَاءَ الله أَنْ يَقُوْلَ ، ثُمَّ أَمَرَهُمْ أَنْ يَتَعَوَّذُوْا مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ ».وَفِي أُخْرَى نحَوْهِ ِ، وَفِي آخِرِهِ : « فَقَالَ : إِنِّيْ قَدْ رأيتُكُم تُفْتَنُوْنَ في اْلقُبُوْرِ كَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ، قَالَتْ عَمْرةُ : فَسَمِعْتُ عائشةَ تًَقُوْلُ : فَكُنْتُ أسْمَعُ رَسُوْلَ الله بَعْدَ ذلَِكَ يَتَعَوَّذُ مِنْ عَذَابِ النَّارِ ، وَعَذَابِ اْلقَبْرِ ». ﴿رواه”البُخَارِي” 2/45 وفي 2/47 وفي 2/49 و”مسلم” 3/30 ﴾
‘Aisyah radhiyallahu’anha meriwayatkan, kemudian Nabi saw. menghadap jama’ah kemudian bersabda: “Allah s.w.t berkehendak untuk berfirman sesuai yang Ia mau, kemudian Nabi saw.memerintahkan untuk berlindung dari adzab qubur. Dalam riwayat lain: “sesungguhnya aku benar-benar melihat orang-orang di kuburan terkena fitnah seperti fitnah Dajjal. Setelah itu Nabi s.a.w menyerukan untuk memanjatkan doa perlindungan dari adzab neraka dan adzab qubur.” Shahih Bukhari (2/45,47,49); Shahih Muslim 3/30).
Ditampakkan kepada Nabi s.a.w. kejadian alam ghaib, termasuk keadaan syurga dan neraka
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ:خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى عَهْدِ رَسُولِ الله فَقَامَ رَسُولُ الله يُصَلِّى ثُمَّ قاَلَ : انَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ الله ، فَاذَا رَايْتُمْ ذَالِكَ فَصَلُّوا حَتَّى يُفْرَجَ عَنْكُمْ ، لَقَدْ رَايْتُ فِى مَقَامِىْ هَذَا كُلَّ شَىْءٍ وُعِدْتُهُ ، حَتَّى لَقَدْ رَايْتُنِى أُرِِيْدُ اَنْ آخُذَ قِطْفًا مِنَ الْجَنَّةِ حِيْنَ رَايْتُمُوْنِِِىْ جَعَلْتُ أَتَقَدَّمُ ، وَلَقَدْ رَايْتُ جَهَنَّمَ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا حِيْنَ رَايْتُمُونِِْىْ تَاخَّرْتُ ﴿ رواه”البُخَارِي” 2/42 و7/45 وفي 8/160 و”مسلم” 3/27 وفي 3/28 و”أبو داود” 1191 و”النَّسائي” 3/132 ومالك “الموطأ” صفحة (32ا) . و”الحُمَيدي” 180 و”أحمد” 6/32 ﴾
‘Aisyah radhiyallahu’anha meriwayatkan: ‘Di zaman Rasulullah s.a.wterjadi gerhana, beliau berdiri sholat kemudian berkhutbah: “Sesungguhnya matahari dan bulan ini tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Bilamana kalian melihat gerhana, dirikanlah sholat sampai keadaan kembali normal. Sungguh, aku melihat dari tempatku ini segala sesuatu yang Allah s.w.t janjikan kepadaku, bahkan aku benar-benar melihat isi syurga sampai mengambilnya. Aku juga melihat isi neraka jahannam, di mana mereka saling menginjak-injak satu sama lain. Ketika isi neraka diperlihatkan kepadaku, aku segera mundur.”
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: انْخَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ فَصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ وقال: إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلْتَ شَيْئًا فِي مَقَامِكَ ثُمَّ رَأَيْنَاكَ كَعْكَعْتَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ فَتَنَاوَلْتُ عُنْقُودًا وَلَوْ أَصَبْتُهُ َلأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتْ الدُّنْيَا وَأُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ قَالُوا بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ بِكُفْرِهِنَّ قِيلَ يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ ﴿رواه البُخاري 1/14(29) و1/118(431) و5/45(1052) وفي 1/190(748) و4/132(3202) وفي 7/39 و”مسلم” 3/34﴾
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan keduanya tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihatnya maka perbanyaklah mengingat Allah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami melihat tuan merasakan sesuatu pada posisi tuan dan kami melihat seakan tuan menahan perasaan takut?”
Nabi saw menjawab: “Sungguh aku melihat syurga, dan didalamnya aku memperoleh setandan anggur. Seandainya aku mengambilnya tentu kalian akan memakannya sehingga urusan dunia akan terabaikan. Kemudian aku melihat neraka, dan aku belum pernah melihat suatu pemandangan yang lebih mengerikan dibanding hari ini, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.”
Para sahabat bertanya lagi, “Mengapa begitu wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Karena mereka sering kufur (mengingkari).” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah mereka mengingkari Allah s.w.t?” Beliau menjawab: “Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap salah seorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata, ‘Aku belum pernah melihat kebaikan darimu sedikitpun’.”
Tidak ada komentar: